Tas Merek, HP Mahal, Mobil Bagus, Tapi CD/DVD-nya Bajakan

by

ipnews.acaciapat.com – Konsumen di Indonesia hampir di setiap jenjang pendidikan dan tingkat ekonomi dalam memahami produk bajakan cenderung masih rendah. Kondisi itu menyebabkan kerugian besar bagi pelaku seni dan pendapatan negara. Hal itu disampaikan oleh staf pengajar Universitas Darma Persada Firsan Nova dari hasil penelitian yang dilakukannya.

Menurutnya, ada hubungan berbanding terbalik antara moral konsumen (consumer moral) dan niat membeli produk bajakan (purchase intention).

“Selain itu kualitas keping CD dan DVD yang relatif baik dengan harga yang terjangkau ditambah rendahnya resiko atau sanksi hukum bagi mereka yang membeli dan menjual CD/DVD bajakan membuat konsumen lebih memilih untuk membeli produk bajakan,” ujarnya, Kamis (24/11/2016).

Hasil penelitian yang dilakukan itu akan dipaparkan dalam Konferensi Internasional Eknomi dan Bisnis di Universitas Gadjah Mada pada 25-27 November 2016.

Dia juga menemukan kecenderungan masyarakat tidak memberikan sanksi sosial terhadap mereka yang membeli produk bajakan. Padahal akibat pembajakan CD/DVD di Indonesia yang semakin marak, sistematis, terorganisir dengan distribusi meluas, negara dirugikan hingga Rp6 triliun per tahun.

Adanya UU Hak Cipta No. 28/ 2014 dengan ancaman pidana dan denda tak sedikit tak berdampak, CD dan DVD bajakan masih dengan mudah dijajakan di lapak pinggir jalan hingga di dalam mal.

“Menariknya, keputusan membeli CD dan DVD bajakan tersebut juga bertentangan dengan dua faktor keputusan pembelian benda yang dilakukan konsumen Indonesia umumnya ditentukan oleh harga dirinya (self esteem) dan kepercayaan dirinya (self confidence) kepada sebuah produk,” tuturnya.

Dia mencontohkan konsumen Indonesia umumnya merepresentasikan dirinya dengan produk yang mereka pakai. Bahkan mereka meningkatkan kepercayaan diri lewat sebuah produk. Tak heran jika konsumen Indonesia dikenal sangat konsumtif dan juga kompetitif.

Kompetitif ditunjukkan membeli produk yang lebih mewah dibandingkan dengan lingkungan sosial mereka. Merek merupakan indikator kejayaan. Ironisnya mereka yang emotional benefit oriented itu menjadi berubah perilakunya ketika membeli CD/DVD.

“Mereka membeli tas bermerek, HP mahal, mobil bagus namun CD/DVD-nya bajakan. Sebuah kombinasi tidak konsaisten yang secara fakta terjadi di hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia,” papar Firsan.

Riset yang dilakukan Firsan semakin menarik mengingat beberapa narasumber risetnya ternyata berprofesi sebagai guru, rohaniawan, karyawan swasta yang sepatutnya memiliki standar moral dan pendidikan yang tinggi dan sadar mengkonsumsi CD bajakan merupakan produk yang sama haramnya dengan prostitusi, narkoba atau produk-produk yang dilarang negara. Sumber: Bisnis.com