Sengketa Merek, Mobil BMW Kalah Lawan Baju BMW dari Penjaringan

by
Salah satu produk BMW (dok.bmw)

Salah satu produk BMW (dok.bmw)

Acaciapat.com – Sengketa Merek, Mobil BMW Kalah Lawan Baju BMW dari Penjaringan. Mahkamah Agung (MA) tidak menerima Peninjauan Kembali (PK) perusahaan mobil asal Jerman, BMW. Alhasil, Henrywo Yuwijono kini bernapas lega memproduksi merek baju BMW alias Body Man Wear.

Kasus bermula saat perusahaan Beyerische Motoreen Werke (BMW) Aktiengesellschafft menggugat warga Muara Karang, Penjaringan, Jakarta Utara, Henrywo. Perusahaan yang bermarkas di Munich, Jerman itu tak terima apabila Henrywo memproduksi celana dan baju dengan merek BMW.

Sebagai perusahaan mobil dunia, BMW tidak perlu sulit membuktikan keterkenalan mereknya. Berdasarkan Fortune Global 500, merek BMW menduduki posisi ke 12 teratas dunia sebagai merek yang paling dihormati dan dikenal masyarakat.

Secara kesejarahan, BMW sudah dibuat pada 1917 untuk merek sepeda motor dan pada tahun 1928 untuk mobil. Hal itu jauh berbeda dengan merek BMW ala Henrywo yang baru dibuat pada 2004 dengan nomor merek IDM 000016513.

Secara legal, BMW juga telah terdaftar di lebih 150 negara di dunia. Tidak hanya untuk jenis mobil, tetapi juga untuk pakaian, alat olah raga hingga barang fashion.

Gayung bersambut. Pada 10 Desember 2013, Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) mengabulkan gugatan BMW. PN Jakpus menyatakan BMW dari Jerman merupakan merek terkenal dan merintahkan Henrywo mencabut merek BMW (Body Man Wear) karena beritikad tidak baik dalam pendaftaran merek itu dan memiliki kesamaan pada pokoknya dengan BMW asal Jerman.

Atas putusan itu, Henrywo tidak terima dan mengajukan kasasi. Apa nyana, permohonan Henrywo dikabulkan dan MA menolak gugatan BMW dari Jerman. Putusan kasasi itu diketok pada 27 Oktober 2014 dalam putusan Nomor 79 K/Pdt.Sus-HKI/2014.

BMW tidak terima dan mengajukan upaya hukum terakhir. Tapi upaya pamungkas itu tidak membuahkan hasil maksimal. MA hanya mengubah putusan ‘ditolak’ menjadi ‘tidak diterima’.

“Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima,” kata majelis hakim sebagaimana dilansir website MA, Jumat (12/8/2016).

Majelis beralasan berdasarkan rapat Pleno Kamar Perdata yang dituangkan dalam SEMA Nomor 03/BUA.6/H.S/SP/XII/2015, telah disepakati bahwa gugatan pembatalan merek yang memiliki persamaan pada pokoknya yang tidak sejenis, gugatan harus dinyatakan ‘tidak diterima’. Rapat Pleno itu menggunakan argumen hukum yaitu hingga hari ini belum ada Peraturan Pemerintah (PP) sebagai tindak lanjut dari Pasal 6 ayat 2 UU Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek.

Dalam kasus BMW ini, memang benar ada persamaan pada pokoknya antara BMW asal Jerman dengan BMW milik Henrywo. Tetapi kedua merek itu bukan merek dalam satu jenis produk yaitu BMW asal Jerman adalah produk otomotif sedangkan BMW milik Henrywo adalah produk fashion.

“Berdasarkan Rapat Pleno tersebut maka putusan-putusan MA terdahulu tentang merek yang sama untuk barang tidak sejenis, tidak lagi dipedomani,” putus majelis yang diketuai Prof Dr Takdir Rahmadi dengan anggota I Gusti Agung Sumantha dan Hamdi pada 11 Mei 2016 lalu.

Sumber: https://news.detik.com