Pemilik Merek Kopitiam Balik Menggugat Lau’s Kopitiam

by
Lau’s Kopitiam cenderung mengabaikan hak-hak pemilik Kopitiam yang telah dilindungi undang-undang.
Pemilik Merek Kopitiam Balik Menggugat Lau’s Kopitiam

Pemilik Merek Kopitiam Abdul Alex Soelistyo menggugat balik Lau’s Kopitiam di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (19/2)
Tak senang karena merek Kopitiam miliknya digugat terus, Abdul Alex Soelistyo menggugat balik pemilik Lau’s Kopitiam, Phiko Leo Putra. Gugatan balik atau rekonvensi tersebut dilayangkan sekaligus dengan jawaban Alex saat menanggapi gugatan Phiko, Rabu (19/2).Alasan Alex mengajukan gugatan rekonvensi adalah merujuk pada Pasal 76 UU Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek. Ketentuan tersebut mengatur bahwa pemilik merek terdaftar dapat mengajukan gugatan ganti rugi kepada pihak-pihak yang tanpa hak menggunakan merek yang memiliki persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya.“Pemilik merek Kopitiam yang sah berhak mengajukan gugatan ganti rugi terhadap pemilik merek yang tidak terdaftar yang menggunakan merek secara tanpa hak yang menimbulkan kerugian bagi usaha pemilik merek yang sah,” tulis kuasa hukum Alex, Susy Tan dalam berkas jawabannya, Rabu (19/2).

Susy menegaskan merek Lau’s Kopitiam tidak terdaftar dan pernah ditolak permohonan pendaftarannya di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual pada 15 April 2010. Karenanya, Susy mentuturkan sejak tanggal tersebut, Phiko adalah pemilik merek yang tidak terdaftar.

Alasan penolakan Ditjen HKI atas pendaftaran merek Lau’s Kopitiam adalah ada kemiripan antara Lau’s Kopitiam dengan merek Kopitiam milik Alex. “Sehingga, Tergugat Rekonvensi memeuhi kriteria Pasal 76 UU Merek sebagai pihak yang menggunakan merek yang memiliki persamaan pada pokoknya dengan merek milik Penggugat Rekonvensi,” lanjut Susy lagi.

Meskipun merek Lau’s Kopitiam tidak terdaftar, Phiko tetap saja menggunakan merek tersebut sebagai nama tempat usahanya. Bahkan, Phiko semakin giat melebarkan usahanya dengan membuka cafe atau restoran baru dengan menggunakan merek Lau’s Kopitiam.

Atas tindakan ini, Alex mengirimkan beberapa kali surat teguran kepada Phiko. Alex mengingatkan Phiko untuk tidak menggunakan merek yang mengandung kata Kopitiam lagi. Akan tetapi, somasi-somasi tersebut diabaikan Phiko. Phiko sama sekali tak menunjukkan gelagat menghentikan usahanya yang menggunakan merek Kopitiam itu.

Lantaran tak diperdulikan, Alex melakukan pengumuman publik. Pemilik merek Kopitiam terdaftar ini mengingatkan Phiko melalui pengumuman di media nasional pada 8 Februari 2012 dan 11 September 2013. Sekalipun telah diberikan peringatan melalui surat kabar harian nasional, Phiko tetap mengacuhkan peringatan tersebut dan terus menjalankan usahanya tanpa ada niat untuk mengganti mereknya itu.

Akibat tindakan Phiko, Alex mengaku merasa sangat dirugikan. Ia mengklaim telah mengalami kerugian yang totalnya mencapai Rp8,6 miliar. Untuk kerugian material, Alex menderita kerugian sejumlah Rp3,69 miliar. Kerugian material ini berasal dari biaya somasi, biaya pengumuman koran, dan kisaran keuntungan bersih dari setiap outlet yang menggunakan merek Lau’s Kopitiam.

Sedangkan kerugian immaterial, Alex menyatakan telah merugi senilai Rp5 miliar. Pasalnya, ketika Alex ingin membuka cafe atau restoran Kopitiam di tempat yang sama dengan Lau’s Kopitiam, Alex selalu ditolak pengelola gedung. Berdasarkan hal tersebut, Alex merasa terhambat dan gagal meraih peluang bisnis.

“Karena sudah terbukti selama ini Tergugat Rekonvensi sama sekali tidak menghormati hak-hak Penggugat Rekonvensi, mohon majelis hakim meletakkan sita jaminan atas seluruh harta kekayaan Tergugat Rekonvensi,” pinta Susy lagi.

Terhadap gugatan rekovensi ini, lagi-lagi kuasa hukum Phiko, Binsar Holomoan enggan berkomentar. “Kita lihat nanti saja,” pungkasnya.

Source: www.hukumonline.com