Aroma Kopitiam yang Membelah Mahkamah Agung

by

Pamin selaku pemilik Kok Tong Kopitiam menggugat hak merek KOPITIAM yang dimiliki Abdul Alex Soelystio. Atas gugatan ini, Pamin lalu kasasi tapi ditolak. Lantas Pamin pun kasasi tapi lagi-lagi ditolak.

Dalam putusan Mahkamah Agung (MA) yang mengukuhkan merek ‘KOPITIAM’ hanya boleh dipakai oleh Abdul Alex Soelystio, MA terbelah. 5 hakim agung yaitu Prof Dr Vallerina JL Kriekhoff sebagai ketua majelis dan Syamsul Ma’arif PhD, I Made Tara dan Mahdi Soroinda Nasution dengan Dr Nurul Elmiyah selaku hakim anggota tidak bisa menghasilkan putusan bulat atas nasib KOPITIAM.

Dalam putusan yang diketok pada 20 Maret 2013, hakim agung Syamsul menilai Kopitiam tidak bisa diberikan hak ekslusif. Menurutnya kata ‘KOPITIAM’ adalah kata yang secara umum digunakan oleh masyarakat Melayu untuk sebuah kedai yang menjual kopi sehingga semua kedai kopi pada dasarnya berhak menggunakan kata tersebut untuk melengkapi merek dagangnya.

Tidak hanya Syamsul, Nurul pun punya pandangan senada. Yaitu KOPITIAM merupakan gabungan kata ‘KOPI’ dalam bahasa Melayu dan POJ. Adapun Tiam dari dari bahasa Hokkian yang berarti kedai. Hal ini membuktikan kata KOPITIAM sebuah kata yang bersifat generik/sudah umum digunakan. Oleh karena bersifat generik, maka hal itu tidak dapat diatur berdasarkan UU Merek.

Dengan adanya perbedaan itu, MA telah berusaha sungguh-sungguh bermusyawarah, tetapi tanpa hasil sehingga diambil suara terbanyak. Suara Syamsul dan Nurul kalah suara dengan I Made Tara, Vallerina JL Kriekhoff dan Mahdi Soroinda Nasution.

source: www.detik.com